Kemenag Soroti Risiko AI di Kampus, Dosen Diminta Waspadai Kebocoran Data Mahasiswa
![]() |
| Pembinaan pegawai Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Dok. Kemenag RI |
KLIK CHANNELKU — Kementerian Agama mengingatkan dosen dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi keagamaan agar tidak menggunakan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) tanpa kendali. Selain mempercepat pekerjaan, AI berisiko menimbulkan kesalahan, plagiarisme, kebocoran data, hingga menurunkan kemampuan berpikir kritis.
Peringatan itu disampaikan Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani saat memberikan pembinaan pegawai Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat, 7 Agustus 2026.
Dalam materi bertajuk “Dilema Penggunaan Generative AI pada Perguruan Tinggi”, Ali mengatakan perkembangan AI tidak lagi bisa dihindari. Perguruan tinggi perlu beradaptasi, tetapi tetap menempatkan manusia sebagai pengendali teknologi.
Menurut dia, AI dapat membantu dosen mengeksplorasi gagasan, menganalisis berbagai skenario, melakukan sintesis lintas disiplin, hingga mengotomatisasi pekerjaan administratif. Teknologi itu juga dapat digunakan untuk mempersonalisasi materi ajar dan merancang kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Bagi mahasiswa, AI dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi dan menjadi alat bantu pembelajaran. Namun, penggunaan teknologi tersebut tidak boleh menggantikan proses berpikir dan tanggung jawab akademik.
“Anda tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI, tetapi Anda akan kehilangan pekerjaan karena orang yang menggunakan AI,” ujar Kaban, mengutip pernyataan populer dari Jensen Huang terkait diskursus perkembangan teknologi.
Ali menekankan prinsip Human-in-the-loop. Artinya, manusia harus tetap terlibat dalam setiap keputusan penting yang melibatkan AI, mulai dari menentukan tujuan penggunaan, melindungi data saat memasukkan prompt, memeriksa fakta dan logika, hingga mengesahkan hasil akhir.
“AI membantu manusia yang bernilai,” tegasnya.
Risiko Integritas Akademik
Ali menyebut penggunaan AI secara tidak terkendali dapat memunculkan sejumlah persoalan di lingkungan perguruan tinggi. Di antaranya ketergantungan teknologi yang membuat proses berpikir menjadi dangkal, halusinasi, bias, sitasi palsu, plagiarisme, dan fabrikasi.
Risiko lain adalah kebocoran informasi sensitif. Karena itu, pegawai diminta memahami klasifikasi data sebelum memasukkannya ke aplikasi berbasis AI.
“Jangan pernah memasukkan data yang sifatnya sensitif ke dalam aplikasi secara sembarangan,” pesannya.
Ali mencontohkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), nilai mahasiswa, dan data kesehatan sebagai informasi yang harus dilindungi. Data tersebut tidak boleh diunggah ke platform AI yang tidak disetujui tanpa otorisasi khusus.
Menurut Ali, hasil yang diberikan AI juga tidak dapat langsung dianggap sebagai kebenaran. Dosen dan tenaga kependidikan tetap harus memeriksa fakta, logika, hak cipta, serta kesesuaian informasi dengan kebutuhan akademik.
“Masalahnya bukan penggunaan AI tetapi siapa yang memegang kendali. AI mempercepat pekerjaan. Namun juga dapat mempercepat kesalahan, bias, kebocoran data dan kemunduran cara berpikir. Kompasnya harus menjaga martabat manusia, integritas ilmiah, keadilan dan keberlanjutan,” bebernya.
Ali mengatakan perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan sivitas akademika yang mampu menggunakan teknologi. Kemampuan tersebut harus disertai tanggung jawab dan kepemimpinan yang bijaksana.
“Yang harus kita bangun bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi manusia yang memiliki kompetensi dan kapasitas untuk memimpin perubahan. Mari kita buat komitmen bersama, AI hanyalah perangkat, tanggung jawab diemban oleh manusia,” ungkapnya.
AI dan Tantangan Adaptasi
Ali menilai perkembangan AI merupakan bagian dari perubahan besar dalam ekosistem teknologi. AI berkembang dari pemanfaatan big data, machine learning, dan deep learning hingga Generative AI yang mampu menghasilkan konten atau gagasan baru.
Perubahan tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan bagi perguruan tinggi. Ali mengingatkan institusi pendidikan yang gagal mengikuti perubahan berisiko tertinggal.
“Charles Darwin pernah menyampaikan bahwa seluruh spesies di muka bumi pada akhirnya dapat punah, termasuk yang paling cerdas, kecuali mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan,” ujarnya.
Menurut Ali, adaptasi bukan lagi sekadar pilihan. Perguruan tinggi perlu mengadopsi AI secara bijaksana tanpa mengorbankan integritas akademik dan nilai kemanusiaan.
“Tanpa kemampuan beradaptasi, kita berisiko tertinggal dan perlahan menghilang ditelan perkembangan zaman,” ungkapnya.
UIN Bandung Siapkan Tahun Akademik Baru
Di sisi lain, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar mengatakan kampus sedang mempersiapkan Tahun Akademik 2026/2027 yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Agustus hingga 18 Desember 2026.
Universitas juga menyiapkan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada 25-27 Agustus 2026.
Rosihon mengatakan sebagian besar kuota mahasiswa baru yang disediakan universitas telah terpenuhi. Ia meminta seluruh unsur kampus memastikan agenda awal tahun akademik berjalan tertib.
“Alhamdulillah, sebagian besar informasi yang sudah disiapkan oleh Bapak dan Ibu sudah terpenuhi. Tentu ini indikator yang kuat bahwa UIN Bandung masih menjadi pilihan masyarakat,” ujarnya.***
Reporter : Heri ‖ Editor : Tim Redaksi


