BREAKING NEWS

Mualem Dukung Aceh Brick, Lumpur Pascabencana Dikembangkan Jadi Bata Ringan

Daftar Isi Konten [Tampil]
Rapat khusus membahas inovasi tersebut di Ruang Potda II Kantor Gubernur Aceh, Selasa, 11 Agutus 2026. Dok. Ist


KLIK CHANNELKU — Pemerintah Aceh mendorong pemanfaatan lumpur dan pasir hasil sedimentasi bencana hidrometeorologi sebagai bahan baku bata ringan. Inovasi yang dikembangkan Tim Riset Universitas Syiah Kuala (USK) itu diberi nama Aceh Brick.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mendukung pengembangan riset tersebut. Pemerintah Aceh menilai material sisa bencana dapat diolah menjadi bahan konstruksi sekaligus membantu pembersihan kawasan terdampak.

“Sangat positif. Pemerintah Aceh sangat mendukung,” kata Gubernur Mualem sebagaimana disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Kamis (13 Agustus 2026). “Gubernur Mualem sangat mengharapkan hasil penelitian USK bernilai manfaat bagi Aceh.”

Menurut Nurlis, dukungan Mualem mendorong Sekretaris Daerah Aceh M Nasir Syamaun mengarahkan jajaran pemerintah daerah memfasilitasi pengembangan penelitian tersebut.

Pembahasan mengenai Aceh Brick dilakukan dalam rapat di Ruang Potda II Kantor Gubernur Aceh pada Selasa, 11 Agustus 2026. Rapat itu membahas kemungkinan pemanfaatan sedimen bencana untuk mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Poinnya adalah pemanfaatan lumpur dan pasir hasil sedimentasi bencana hidrometeorologi sebagai bahan baku bata ringan Aceh Brick untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Teuku Robby Izra, yang bertindak sebagai pemimpin rapat.

Bobot Ringan, Distribusi Lebih Mudah

Prof Dr Ir Abdullah, ahli beton ringan dari USK yang mengikuti rapat tersebut, mengatakan bata ringan memiliki bobot lebih rendah sehingga lebih mudah diangkut ke wilayah yang sulit dijangkau.

Material itu, kata Abdullah, berpotensi digunakan untuk pembangunan jaringan irigasi dan sejumlah infrastruktur pendukung lainnya.

Pemanfaatan sedimen juga dapat mengurangi ketergantungan pada tanah liat sebagai bahan baku batu bata.

“Pemanfaatan lumpur dan pasir juga berpotensi menjaga ekosistem karena dapat mengurangi kebutuhan pengambilan tanah liat dari alam sebagai bahan baku batu bata,” kata Guru Besar USK ini lagi.

Kepala Balai Jasa Konstruksi Wilayah Aceh (Balai Jakon), Indra Suhada, mengatakan Aceh Brick dapat dikembangkan sebagai material alternatif untuk pembangunan. Namun, penggunaannya harus memenuhi persyaratan teknis dan standar yang berlaku.

“Produk ini berpotensi dikembangkan sebagai material alternatif untuk mendukung pembangunan infrastruktur rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, dengan tetap memperhatikan persyaratan teknis dan standar yang berlaku,” kata Indra.

Balai Jakon menyiapkan pembinaan, kegiatan percontohan, dan pelatihan produksi bata ringan bagi kelompok masyarakat.

Tidak Semua Sedimen Bisa Langsung Digunakan

Pemerintah Aceh mengingatkan bahwa material hasil bencana tidak bisa langsung digunakan sebagai bahan konstruksi. Karakteristik sedimen dapat berbeda antara satu lokasi dan lokasi lainnya sehingga perlu pemeriksaan teknis.

“Sebab, setiap lokasi memiliki karakteristik sedimen yang dapat berbeda, sehingga perlu dilakukan penilaian untuk memastikan material yang digunakan memenuhi persyaratan teknis,” kata Robby.

USK dan Balai Jakon selanjutnya akan menilai peluang kerja sama dan transfer pengetahuan serta teknologi pengolahan bata ringan.

Rencana tindak lanjut mencakup pengujian teknis, penyusunan model produksi berbasis kelompok masyarakat, pelatihan warga terdampak, penyiapan lokasi percontohan, serta kajian penggunaan Aceh Brick untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pemerintah Aceh juga memasukkan pengembangan material tersebut dalam rencana pemanfaatan untuk program rehab-rekon 2026–2028.

Sebelum digunakan secara luas dalam proyek pemerintah, Aceh Brick harus melewati uji mutu, pengujian lapangan, pemenuhan standar teknis, dan pembuktian kinerja. Tahapan itu diperlukan untuk memastikan material memenuhi aspek keselamatan dan kelayakan konstruksi.

Pemerintah Aceh berharap pengolahan sedimen dapat memberi manfaat ganda: mengurangi material sisa bencana, menyediakan bahan bangunan alternatif, serta membuka peluang kerja bagi masyarakat terdampak.

“Kita ingin mengubah material yang sebelumnya menjadi persoalan bencana menjadi sumber solusi. Lumpur dibersihkan, diolah menjadi material bangunan, masyarakat mendapatkan pekerjaan, dan hasilnya dapat kembali dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan Aceh,” kata Robby.***


Reporter : Maulana ‖ Editor : Tim Redaksi

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image