Kurikulum Berbasis Cinta, Menag: Cetak Generasi Penuh Empati
![]() |
Menag Nasaruddin Umar dorong Kurikulum Berbasis Cinta untuk lahirkan generasi berakhlak, berempati, dan seimbang spiritual.
KLIK CHANNELKU – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ditargetkan untuk melahirkan generasi yang memiliki karakter penuh kasih dan empati, bukan kebencian.
“Yang kita targetkan adalah bagaimana melahirkan anak-anak didik ataupun mahasiswa-mahasiswa yang punya kultur dan basic pencinta, untuk melahirkan sosok figur yang pencinta, bukan pembenci. Itu memang perlu ada metodologi,” ujar Nasaruddin Umar saat merilis Belajar Mandiri KBC di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, selama ini pendekatan pendidikan lebih banyak menitikberatkan pada aspek intelektual semata, sementara dimensi spiritual cenderung terabaikan. Padahal, keduanya seharusnya berjalan beriringan.
“Kita hanya iqra, iqra, tapi bismirabbik tenggelam. Justru paralel antara iqra dan bismirabbik itu perlu, karena penggunaan segenap potensi diri kita itu perlu dikerahkan,” kata Nasaruddin Umar.
Ia menilai, praktik pendidikan di pesantren telah lebih dulu menerapkan keseimbangan antara intelektual dan spiritual. Hal ini terlihat dari kebiasaan berdoa sebelum memulai pembelajaran sebagai bentuk pensucian diri.
“Kalau kita di pondok pesantren itu sebelum belajar ada doa, ada syok terapi, termasuk juga berdoa sebelumnya. Celakanya yang digunting itu adalah pensucian dirinya, wudunya, doanya, penghormatannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa konsep cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam seluruh materi pembelajaran, termasuk hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta.
“Apapun yang dipelajari itu selalu ada cinta. Cinta kepada siapa? Ya cinta kepada Tuhan. Karena alam ini kan adalah tanda-Nya. Kalau kita bicara tentang alam tidak terintegratif dengan Tuhan maka itu pasti akan sangat keliru,” ujar Nasaruddin Umar.
Ia pun mengajak para pengajar untuk benar-benar menghayati konsep tersebut dan mengimplementasikannya dalam proses belajar mengajar, agar tujuan pendidikan tidak hanya mencetak individu cerdas, tetapi juga berakhlak.
“Para pengajar, mari kita coba untuk meresapi, menghayati, dan mendalami bagaimana agar kita bisa mencapai target, yakni anak-anak kita kelak menjadi lebih jinak, lebih memiliki rasa, lebih memiliki tenggang rasa, dan lebih berakhlak," kata Menag.
"Jangan sampai kita melahirkan anak ,yang kalau seperti dalam hadis Nabi, ibarat membesarkan anak harimau, dibesarkan, tetapi menjadi pemangsa di kemudian hari. Inilah yang tidak kita inginkan. Insyaallah, kurikulum berbasis cinta ini akan melahirkan manusia-manusia yang berakhlak mulia,” pungkasnya.***
Reporter : Maulana ‖ Editor : Tim Redaksi

